Suara Merdeka – 9 August 2008

Nama Tamanna Sagar masih asing di jagat seni rupa. Nama itu tak tertemukan dalam direktori seni manapun. Tapi kenapa ia tiba-tiba berpameran tunggal di Puri Lobby Hotel Ciputra? Siapa sejatinya Tamanna?

Pertanyaan itu menemukan jawabnya dalam pembukaan pameran, Jumat (8/8) kemarin. Di depan belasan apresian, seorang perempuan paro baya berkain sari hitam mengenalkan dirinya. “Saya Tamanna Sagar dari India. Sudah sembilan tahun tinggal di Semarang, tapi baru melukis setahun belakangan.”

Yap, itulah Tamanna, perempuan pelukis yang boleh dibilang pemula. Sebelumnya, istri seorang GM perusahaan garmen di Ungaran itu pernah berkarier di bidang travel dan penerbangan. Setelah menikah, ia mengikuti suami ke Indonesia. Entah mengapa ia kemudian tertarik berkarya menggunakan medium rupa.

Pengisi waktu senggang? Tamanna mengangguk, tapi lebih dari itu ia menyebut melukis sebagai penyeranta ungkapan jiwa. “Dengan melukis, saya bisa mengekspresikan perasaan yang terpendam, tentu saja dengan bahasa keindahan.”

Tamanna mengaku tak punya guru melukis. Kebisaannya menggunakan kuas dan cat diperoleh begitu saja. Barangkali itu bakat yang mengalir dari ibunya, Dr Saroj Sharma. Selain pelukis, sang bunda adalah Director of Museum and Art Gallery di New Delhi, India.

“Dari kecil saya suka seni rupa. Saya suka melihat ibu saat melukis. Tapi anehnya, baru sekarang saya tertarik melukis sendiri,” ujar Tamanna, seraya membetulkan potu di dahinya.

Gairah
Perempuan berlatar pendidikan sastra Inggris itu melukis dengan gairah luar biasa. Setiap hari ia menyisihkan waktunya untuk melukis dari pagi hingga petang. Maka tak heran jika dalam setahun ia telah menghasilkan puluhan karya, dan kini dipamerkan di Hotel Ciputra.

Tamanna melukis apa saja, dengan corak yang juga apa saja. Objek lukisan berupa manusia, lanskap alam, binatang, dan bebungaan ia sajikan secara pusparagam, mulai dari corak realis, impresionis, dekoratif, sampai ekspresionis. “Saya tidak ingin dibatasi oleh corak atau aliran. Saya ingin melukis menurut keinginan hati.”

Kecenderungan tak bisa lepas dari karya Tamanna adalah warna kultur India. Sebagian lukisan memapar objek Khrisna, Radha, Budha, simbol Om, dan profil perempuan berkain sari. Pelukis yang lahir dan besar di Tanah Hindustan itu tak bisa melepaskan diri dari memori kulturalnya. Sadar atau tidak, memori itu meletup melalui torehan cat di kanvas.

Dengan proses yang belum lama, tak bijak menilai karya Tamanna dari teknik semata. Satu hal yang perlu mendapat apresiasi dari pengagum van Gogh itu adalah keseriusan menggauli dunia barunya. Tamanna ingin terus melukis di sisa hidupnya.

Dimuat di Harian Suara Merdeka, 9 Agustus 2008 (Sumber Berita)