Wawasan – 9 August 2008

Pameran lukisan di Hotel Ciputra
Mencermati polesan tangan Tamanna Sagar

wawasan-tamanna-sagarLukisan merupakan salah satu karya seni yang mengandalkan keahlian seseorang dalam menuangkan ide, inspirasi, dan imajinasi. Salah satu wahana yang digunakan adalah kanvas. Tak salah bila lukisan yang indah dan berkelas dapat diukur dari nilai seni lukisan itu sendiri. Sebagai ekspresi imajinasi, lukisan juga berkembang layaknya zaman berjalan. Sebagai karya seni, ia juga salah satu aset berharga yang harus dijaga, dihargai dan dimaknai, sesuai dengan pemaknaan masing-masing penikmatnya.

Begitu pula yang dilakukan Tamanna Sagar, seorang pelukis asal India, yang telah sembilan tahun berdomisili di Semarang. Lewat sentuhannya pula, lahirlah karya-karya seni lukis yang dipamerkan di Puri Lobi Hotel Ciputra Semarang, Jumat-Minggu (8-10/8).

’’Semua lukisan saya merupakan hasil dari imajinasi yang mengalir begitu saja dalam benak saya,’’ terangnya.

Uniknya, sebagian besar dari 42 lukisan yang dipamerkan merupakan kreasi baru. Pasalnya, ibu dua orang anak ini jarang menyapukan kuas lukisnya di atas kanvas.

Dia justru lebih sering menggunakan jari-jemarinya langsung untuk melukis. Bahkan kadang dia menggunakan finger print, untuk membuat sentuhan artistik.

Dan terbukti, beberapa lukisan seperti Face of God 2, yang menggambarkan wajah Yesus, begitu terasa sentuhan jari lentiknya. Bahkan noktah jari lengkap dengan sidik jarinya, jika dilihat secara detil masih akan mampu dinikmati.

’’Saya hanya menyapukan kuas untuk membuat blocking background saja, untuk mempercepat proses melukis. Sedang proses pada fokus lukisan lebih banyak menggunakan jari,’’ imbuhnya.

Memulai melukis sejak setahun lalu, bukan berarti pula lukisan Tamanna tak berkelas. Banyak karyanya yang mencoba mengangkat tema holistik, meski dia sendiri mengaku tak terpatok pada satu tema atau aliran lukis tertentu. Namun masih saja tema religi yang terlihat. Lihat saja lukisan berjudul The Shepperd, Arrogance of Padha, Innocence of Child Khrisna ataupun Face of God, terasa kental nuansa religinya.

Nuansa holistik
Dia pun tak memungkiri, jika budaya dan agama Hindu yang dianutnya banyak memberi pengaruh pada setiap hasil karyanya. Alhasil akan (terlalu) banyak nuansa India, yang nampak pada setiap lukisan yang mulai dibuatnya awal tahun ini.

Meski demikian, masih ada beberapa lukisan yang dapat dinikmati dan keluar dari nuansa holistik. Simak saja karyanya yang berjudul Golden DawnSpring and Autumn ataupun Solitude. Lukisan yang terakhir rupanya datang dari kehidupan dan kondisi alam sehari-hari.

Paling tidak kita dapat memberi acungan jempol kepada Tamanna, yang mampu memberikan terobosan baru kepada segenap penikmat karya lukis.

Hadirnya nuansa seni, terlebih seni lukis di hotel berbintang, layak diberikan aplaus. Setidaknya, Tamanna dan Ciputra seperti ingin memberi ruang bernapas lebih bagi seni ini.

Padahal selama ini, hanya sedikit ruang bagi penikmat lukisan di Semarang. Setidaknya, kehadiran Tamanna akan mampu mengangkat seni Kota Semarang yang seakan mati suri ditelan zaman.

Dimuat di Harian Wawasan, 9 Agustus 2008 (Sumber Berita)